18 Oktober 2014 - 18:32
Pertemuan Rahbar dan Sekjen Jihad Islam Palestina

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei Kamis (16/10) pagi dalam pertemuannya dengan Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina, Ramadhan Abdullah bersama rombongan menyebut perang 51 hari dan resistensi Jalur Gaza dengan keterbatasan fasilitas serta populasi dalam menghadapi sebuah rezim sadis dan pasukan bersenjata lengkap sebagai masalah penting dan mencengangkan.

Menurut Kantor Berita ABNA, Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei Kamis (16/10) pagi dalam pertemuannya dengan Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina, Ramadhan Abdullah bersama rombongan menyebut perang 51 hari dan resistensi Jalur Gaza dengan keterbatasan fasilitas serta populasi dalam menghadapi sebuah rezim sadis dan pasukan bersenjata lengkap sebagai masalah penting dan mencengangkan.

Ayatullah Khamenei seraya mengisyaratkan kelemahan Israel dalam menghadapi resistensi bangsa Palestina menambahkan, berdasarkan analisa dan prediksi yang wajar, Israel dengan kemampuan serta perlengkapan militernya yang canggih sebenarnya harus mampu mengakhiri perang di hari-hari pertama, namun pada akhirnya mereka mengaku tidak mampu menggapai ambisinya dan menyerah pada tuntutan muqawama.

Perang Gaza adalah perang total dan menjadi pentas kejahatan perang dalam sejarah umat manusia. Dari satu sisi, perang tak seimbang ini adalah sebuah bangsa tertindas yang berjuang membela diri dari musuh dan penjajah. Sementara dari sisi lain terdapat rezim penjajah dan penjahat yang dengan sadis melakukan pembantaian terhadap warga tak berdosa serta selama 50 hari melakukan serangan udara yang mengakibatkan lebih dari 2000 orang meninggal. Mayoritas korban kekejaman Israel ini adalah perempuan dan anak-anak. Patut dicatat, ulah kejam Israel ini karena Tel Aviv mendapat dukungan dari Amerika Serikat dan memanfaatkan sikap pasif Dewan Keamanan PBB serta bungkamnya para pengklaim pembela Hak Asasi Manusia (HAM).

Sementara warga Gaza dengan semangat tinggi terus berjuang melawan tekanan dan represi. Menurut ungkapan Rahbar, kesabaran ini, resistensi dan kemenangan adalah bukti terealisasinya janji Ilahi yang termanifestasikan di Gaza. Pastinya janji ini akan terwujud dalam skala yang lebih luas lagi.

Ada dua faktor utama dan vital bagi kemenangan ini. Pertama kewaspadaan dalam menghadapi konspirasi rumit musuh terhadap muqawama dan kedua menjaga persatuan dan rekonsiliasi nasional. Bangsa Palestina selama lebih dari setengah abad silam terus dirundung perpecahan dan tidak adanya rekonsiliasi nasional sehingga bangsa ini mengalami kerusakan yang serius. Kondisi ini muncul semenjak penjajahan Inggris di kawasan hingga terbentuknya rezil ilegal Israel.

Oleh karena itu, Rahbar mengingatkan dua strategi penting untuk mensukseskan muqamawa bangsa Palestina dan meraih kemenangan penuh dalam menghadapi rezim agresor dan penjajah Israel. Pertama adalah kesiapan yang diperlukan untuk menghadapi agresi Israel. Khusus dalam masalah ini beliau mengingatkan bahwa gerakan muqawama harus memupuk lebih besar lagi kekuatan di Gaza. Strategi kedua menurut Rahbar untuk menggapai kemenangan final adalah manajemen dan penyusunan program untuk melibatkan Tepi Barat Sungai Jordan dalam melawan rezim Zionis Israel.

Rahbar menyebut dan menekankan bahwa kedua strategi ini sebuah proyek dasar di mana perang melawan Israel adalah sebuah perang yang menentukan. Oleh karena itu, dalam pandangan Rahbar, taklif dan kewajiban haurs difinalkan dan musuh juga harus dibuat khawatir terkait Tepi Barat sama seperti mereka khawatir menghadapi Jalur Gaza.

Untuk saat ini, kondisi politik dan tekad dalam masalah ini semakin terbuka dengan terealisasinya rekonsiliasi nasional dua kubu utama Palestina, Fatah dan Hamas. Dari satu sisi, kondisi regional dengan beragam kerumitannya, membuat pandangan terhadap isu Palestina berubah dan rezim Zionis Israel semakin terkucil.

Meluasnya gerakan spontan di negara-negara Eropa dalam memboikot produk Israel, kutukan dunia terhadap pembangunan distrik Zionis serta dukungan atas pembentukan negara independen Palestina di PBB dan penekankan terhadap pencabutan blokade Jalur Gaza mengindikasikan perubahan konstelasi yang menguntungkan muqawama Palestina.

Perubahan konstelasi yang dihasilkan kesabaran dan muqawama di Gaza telah menciptakan iklim baru di kawasan yang tepatnya menurut Rahbar, prospek transformasi akan semakin jelas dan menjanjikan. (IRIB)